.entry-title { text-align: center;
Naik Dango ke-41 Kubu Raya: Pelestarian Budaya Berpadu dengan Komitmen Anggaran Rp1,25 Miliar

Naik Dango ke-41 Kubu Raya: Pelestarian Budaya Berpadu dengan Komitmen Anggaran Rp1,25 Miliar

Mitragalaksi.com, Kubu Raya, 27 April 2026 — Perayaan adat Naik Dango ke-41 yang digelar di Rumah Betang Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Kegiatan ini mencerminkan sinergi antara pelestarian budaya masyarakat adat Dayak dengan komitmen nyata pemerintah daerah dalam mendukung keberlanjutan tradisi.

Acara tersebut dihadiri Bupati Kubu Raya Sujiwo dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, serta kontingen dari Kabupaten Kubu Raya, Landak, dan Mempawah. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan bahwa Naik Dango memiliki posisi strategis, tidak hanya sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai instrumen memperkuat kohesi sosial di tengah dinamika modernisasi.

Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tujuh kali, sebagai simbol dimulainya rangkaian kegiatan adat. Beragam lomba tradisional turut memeriahkan acara, seperti tari adat, Nutuk Padi, Nampi Padi, bercerita dalam bahasa Dayak, pencak silat Basilat, Pangka Gasing, hingga Nyumpiy. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai lokal.

Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan menyampaikan bahwa tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan kuatnya daya rekat budaya adat dalam kehidupan sosial. Sementara itu, Bupati Sujiwo menegaskan komitmen pemerintah daerah melalui dukungan anggaran.

“Insya Allah, pemerintah daerah akan memberikan dukungan. Tahap awal dialokasikan sebesar Rp1,25 miliar, sebagian untuk renovasi Rumah Betang,” ujarnya.

Baca Juga : Oknum DPRD Sekadau Kangkangi Hukum, PETI Sekadau Tak Tersentuh.

Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan sebesar Rp6 juta untuk setiap kelompok kontingen (pontingan) sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.

Kesepakatan penting juga dihasilkan dalam forum Bahaud yang digelar sehari sebelumnya. Sistem penunjukan tuan rumah yang sebelumnya bersifat regional kini diubah menjadi sistem giliran berskala nasional. Langkah ini menjadi indikasi bahwa Naik Dango diarahkan sebagai agenda budaya yang lebih luas, bahkan berpotensi masuk dalam kalender nasional.

Bupati Sujiwo, yang telah terlibat dalam pembangunan Rumah Betang sejak awal tahun 2000-an, menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian dari identitas bangsa.

“Budaya Dayak bukan hanya jati diri masyarakat Dayak, tetapi juga bagian dari jati diri bangsa Indonesia. Pemerintah akan terus hadir untuk mendukung pelestariannya,” tegasnya.

Penutupan acara ditandai dengan pengumuman distribusi dukungan kepada seluruh kontingen oleh Sekretaris Jenderal MADN, Drs. Jakobus Kumis, S.H.

Naik Dango ke-41 di Kubu Raya menegaskan pergeseran paradigma: budaya tidak lagi dipandang sebagai pelengkap seremoni, melainkan sebagai fondasi sosial yang layak didukung melalui kebijakan, anggaran, dan keberpihakan politik.

Redaksi

}
error: Content is protected !!